Learning. Doing. Improving.

Waktu gue masuk kuliah tahun 2015, gue berpikir bahwa kuliah itu tentang belajar: belajar mandiri, belajar mengatur waktu lebih baik, belajar untuk menyelesaikan masalah sendiri, dan belajar lainnya. Dari tahun pertama sampe tahun ke dua, gue nggak berorganisasi di kampus dan nggak punya kegiatan apapun di luar kampus. Keseharian gue cuma bolak balik kostan – kampus karena pada saat itu gue merasa menjadi mahasiswa yang baik adalah dengan cara mendapatkan nilai yang baik pula. Kalo gue punya kegiatan lain, berarti fokus gue terbagi menjadi dua dan gue nggak tau apakah gue bisa mengatur waktu gue dengan baik. Apalagi di awal semester genap, gue sakit dan penyakit gue pada saat itu agak mengganggu kuliah gue.

Di pertengahan semester genap tahun ke dua gue kuliah, penyakit gue mulai membaik—kambuhnya nggak se-sering di awal-awal yang bikin gue bolak balik ke rumah sakit 4 kali dalam satu bulan—dan gue mulai ikut kepanitiaan acara meskipun nggak banyak. Gue merasa gue perlu bersosialisasi dengan lebih banyak orang dan belajar untuk bekerjasama dengan mereka. Keuntungannya adalah gue jadi kenal lebih banyak orang meskipun pergaulan gue ya stuck di situ aja. Orangnya ya itu itu aja. Ibu gue selalu mendukung gue untuk punya kegiatan di luar kampus atau mencoba suatu hal yang baru, but I was too chicken.

I was comfortable in my own world.

Awal semester lima gue mendaftarkan diri ke tempat kursus bahasa Perancis di Bandung. Bukan keputusan yang tepat karena semester ganjil tahun ke tiga gue bener-bener sibuk (meskipun tetap ada yang ber-statement, “Athaya kan gabut.”), selesai ujian level A1 gue memutuskan untuk nggak melanjutkan kursus gue karena gue nggak tau harus berekspektasi apa di semester genap, bakal sesibuk apa gue. Sampai akhirnya gue menemukan program Global Volunteer-nya AIESEC dan mendaftar. Gue berangkat ke desa di Buriram, Thailand dan tinggal di sana dari 6 Juli – 18 Agustus. Selama di Thailand gue bener-bener belajar banyak tentang diri gue sendiri yang membuat gue lebih percaya diri dan yakin sama diri gue sendiri.

Menjelang pertengahan tahun 2018, salah satu rekan KKN gue berangkat ke London, UK untuk ikut Model United Nations (MUN). Saat itu gue nggak tau apa itu MUN. Salah satu murid di kelas gue cuma bilang, “Ah, itu mah semua orang juga bisa, gue juga bisa. Tinggal lo punya uang atau nggak untuk daftar.” Akhirnya gue googling apa itu MUN, sampe akhirnya gue tau itu apa dan berpikir, “Ini mah bukan buat gue.” Tapi… gue tetep tertarik. Gue cari lagi di internet tentang proses pendaftaran MUN, tips and tricks untuk mereka yang pemula, dan apa yang akan lo hadapi saat lo ikut MUN.

Gue menemukan informasi bahwa salah satu universitas terbaik di Malaysia akan mengadakan MUN pertama mereka dan gue sangat, sangat ingin daftar. Tapi gue merasa bahwa gue sebaiknya ikut yang tahap nasional dulu sebelum ikut tahap internasional. But, apparently, my mother didn’t think so. Beliau mendukung gue untuk langsung ke tahap internasional meskipun gue nggak punya pengalaman sebelumnya. “You survived over a month living with people who don’t speak English, you’d handle 4 days sitting in the same room with people who speak good English just fine.”, she said. So I went for it.

As a first time delegate, I was very nervous and didn’t say a thing because I was afraid I’d say something completely stupid. But seeing those very experienced delegates standing for what they believed in made me want to say something as well—a few things, in fact. So I did, and surely I wasn’t perfect, I should’ve done more research. But the Chair stated that it was a learning process, we can learn from the mistakes we made. We will not go home empty handed. He was absolutely right.

I have no regret.

Advertisements

Feeling Grateful

Tulisan ini adalah salah satu reminder buat diri gue sendiri untuk bersyukur dan selalu bersyukur.

Ini bakal pure curhat. Maaf ya.

Beberapa hari yang lalu, gue baru ngefollow seseorang di Twitter—bukan influencer, or at least I don’t see him as one—karena beberapa tweetsnya kayak menyuarakan apa yang ada di otak gue, haha. Beberapa bulan yang lalu dia pernah ngetweet gini,

“Apa kisah paling sedih kalian sepanjang hidup?”

Banyak orang yang nge-reply tweet itu, nyeritain kisah-kisah sedih mereka. Kebanyakan sih cerita keluarga. Ada salah satu warganet, sebut aja si A, yang ngeliat ibunya minum Bayg*n sampe mulutnya berbusa dan meninggal waktu si A umur 5 tahun. Si B yang kakaknya udah nikah lama tapi belom punya anak, terus diselingkuhin, terus kanker dan berakhir meninggal. Si C yang ayahnya ngabisin uang untuk main judi, si D yang keguguran, si E yang hampir mau bunuh diri, si F yang di-abuse sama orangtuanya sendiri, si G yang ngalamin pelecehan seksual dari kerabatnya, dan kisah-kisah sedih lainnya. Masih banyak banget, ada ribuan yang bales tweet itu. Dan, iya, gue bacain satu-satu.

Selesai baca, gue berasa ditampar. Gue udah lama sadar kalo tiap orang punya masalahnya masing-masing, tapi cerita-cerita itu bener-bener jadi reminder lagi ke gue kalo masalah, mau berat atau ringan, tetep aja masalah.

Ga cuma itu, kalo ngeliat kakak-kakaknya Ibu sama sepupu-sepupu gue, ngeliat Jeje sama Gendies, gue bener-bener ngerasa diingetin sama Allah untuk jangan lupa bersyukur. I wouldn’t say “compared to those problems, mine is nothing” karena masalah ini bukan masalah gue aja tapi masalah satu keluarga (and my mom had a hard time accepting the truth), tapi bukan berarti kita harus ngeluh dan stop bersyukur kan? Justru disaat-saat kayak gini, cari sisi positifnya, cari hikmahnya, terus berterima kasih ke Allah.

Karena cerita-cerita sedih itu dan masalah keluarga gue sekarang, gue jadi lebih bersyukur punya Ayah yang pekerja keras, baiknya luar biasa, jayus parah (HAHAHA), sayang sama anak-anaknya, ga pernah berhenti ngasih support ke anak-anaknya, pemaaf padahal anak-anaknya udah melakukan hal-hal bodoh, selalu mementingkan anak-anaknya daripada dia sendiri, pokoknya the list is endless.

Gue bersyukur punya Ibu yang sabar, mau jadi pendengar yang baik (bahkan mau ditelfon jam 3 pagi gara-gara aku nangis-nangis soalnya mimpi buruk) (iya, Athaya umur 20 tapi kalo mimpi serem terus nangis, masih nelfon ibunya. Bodo amat), ga pernah berenti belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, sama jayusnya kayak ayah (pantesan jodoh (?)), pemaaf juga padahal anak-anaknya kayak gini, dan masih banyak lagi. Pegel ngetiknya.

Last but not least, aku bersyukur punya Abay (kakak gue). Sure we fight and argue a lot over stupid things like dirty dishes, sering randomly ngunciin aku di kamar, sering matiin lampu kamar mandi kalo aku lagi mandi (HHHHHHH), kadang aku kesel banget sama Abay (especially for what happened in the last few months), tapi aku ga mau kalo ga ada Abay. Sepi. :p

My point is, there’s always something to be grateful for. Find one.

Taking The First Step

Setelah punya blog terus gue hapus, bikin wordpress terus gue hapus lagi, akhirnya kali ini gue bikin lagi. Don’t judge, soalnya sebelumnya gue ngerasa ga ada yang penting buat di-share. Hidup gue se membosankan itu. Sampe sekarang tetep sih… tapi, yaudah lah ya. Penting ga penting, cerita aja. Belom tentu ada yang mau baca juga, HAHAHAHA. 😂

Langsung aja dah ah.

Jadi, akhir Februari lalu, waktu gue lagi iseng nge-scroll timeline Line, gue liat postnya Line@ Pesan Anak Unpad tentang Global Volunteer AIESEC. Global Volunteer tuh programnya AIESEC yang ngasih kesempatan ke kita buat volunteer di project sosial di luar negeri selama 6-8 minggu. Kalo kata bookletnya sih, “Global Volunteer exists to touch people’s lives”. Keren. (Lengkapnya tentang Global Volunteer, ada di bit.ly/BOOKLETGVBANDUNG)

Abis baca bookletnya, gue mikir, “kok kayaknya seru…”. Langsung pengen daftar saat itu juga, hahaha. I mean, lo ke luar negeri bukan buat jalan-jalan, sightseeing doang, coy. Ini ke luar negeri yang ada gunanya buat diri lo sendiri. You can actually make a change, not only to yourself, but also to someone else. How cool is that?

Tapi, berhubung gue cupu dan karena beberapa alesan yang lain, gue ragu. Ga yakin kalo gue bisa.

Eh, bukan, ga yakin kalo gue berani.

Beberapa hari selanjutnya, gue masih sering buka-bukain bookletnya Global Volunteer AIESEC itu. Tiap selesai baca, gue makin pengen daftar. Akhirnya gue nanya-nanya sama temen gue, Puan, yang punya pengalaman ikut program GV juga. Kayaknya waktu itu gue udah yakin pengen ikut, tapi cuma butuh “dorongan” lagi biar makin yakin (?) (Kayak mau ngapain aja sih, Thay…)

Jawaban Puan waktu gue nanya ke dia simple, “sumpah, Thay, itu life-changing experience”.

YHA, KAN MAKIN PENGEN.

Temen-temen gue yang lain juga ngedukung, mereka nyuruh gue daftar aja dulu soalnya kalo dipikirin mulu, ujung-ujungnya ga bakal jadi (gue banget! 😂). Yaudah, ga banyak mikir lagi, akhirnya gue daftar ke website AIESEC-nya, terus ikut info session beberapa minggu setelahnya. Si info session ini wajib buat yang mau ikut GV biar lo bisa tau lebih detail tentang GV sama milih projectnya. Abis info session itu, barulah lo boleh apply ke project yang lo mau.

Gue milih project pendidikan di Taiwan & Thailand sama Health project di Poland. Sama AIESEC Taiwan, gue bahkan ga sampe tahap interview karena waktu gue selesai isi form, ada orang dari Taiwan ngekontak gue kalo project di tanggal yang gue pilih udah full. Dia ngerekomendasiin project yang lain. Berhubung gue lagi sambil apply ke Poland sama Thailand, si project baru dari Taiwan ini gue bikin cadangan aja.

Sama Poland, gue disuruh bikin introductory video tentang diri gue sendiri terus di-upload ke platform apapun yang bisa mereka akses. Videonya tipikal sih… tentang kelebihan sama kekurangan gue, what makes me unique, what makes me the best candidate, etc. Kalo sama Thailand, video interview. Gue yang milih mau interview kapan. Interviewnya juga kurang lebih sama, tentang kita sama projectnya.

24 jam setelah interview sama seseorang (lah) dari Thailand, hasil interviewnya dateng. Well…

Gue diterima.

So… I guess I’m going to Thailand this July?

Eh, belom tentu sih, kalo hal-hal wajibnya ga diselesain ya ga bisa berangkat (makanya buruan visa, tiket, asuransi diurus woy).

Ya intinya gitu, jadi sekarang gue lagi nyiapin diri buat bulan Juli sambil menempuh semester 6 yang tugasnya ga kelar-kelar. :”) *pingsan*

Segitu dulu aja ya~
(Kayaknya nanti ada lanjutannya. Kayaknya.)

(Tambahan: Polandnya gimana, Thay? Pengumuman dari Poland dateng seminggu lebih setelah gue nge-upload video gue. Kelamaan, jadi gue milih Thailand aja yang udah jelas. HAHAHAHA.)